
Saya ingin mengajak anda untuk mengingati sebuah dialog yang diselitkan dalam filem Matrix Revolution. Terlepas dari sebarang kontroversi, isu di sebalik filem ini, tidak ada salahnya jika saya memetik dialog salah seorang tokoh utama bernama Morpheus. Dia mengatakan “There is different between knowing the path and walking the path”. Sangatlah berbeza antara orang yang mengetahui suatu jalan dengan orang yang menapaki jalan tersebut. Tidaklah sama darjatnya, antara orang yang mengetahui sebuah ilmu dengan hamba yang mengamalkan ilmu pengetahuannya.
Mengetahui saja, sama sekali tidak mencukupi. Kita harus merealisasikan apa yang kita ketahui. Kita mengetahui apa itu definisi tentang kehidupan yang baik. Tapi pengetahuan tersebut tidak semestinya membuatkan kualiti hidup kita menjadi lebih baik. Kita mengetahui apa itu kebenaran tapi sekali lagi tidak cukup hanya dengan mengetahuinya. Kita wajib mengetahui, mengikuti, menegakkan dan bergabung bersama kebenaran itu sendiri.
Di dunia ini, tak kurang jumlahnya orang-orang yang memiliki pengetahuan, tapi apakah dunia menjadi lebih baik, hanya dengan itu? Dunia berubah ketika orang yang berpengetahuan melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuannya.
Dalam sebuah kalimatnya, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna pernah berkata, “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja yang beragama Islam. Dari mereka yang beragama Islam, jauh lebih sedikit yang berjuang. Dari sedikit yang berjuang jauh lebih sedikit yang bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja dari mereka yang sampai ke akhir perjalanan.”
Sangat jelas perbezaan antara orang-orang yang mengetahui dengan mereka yang merealisasikan pengetahuannya. Dunia berubah kerana orang-orang yang bergerak. Semesta pun terus bergerak untuk menjaga kestabilannya. Bayangkan apabila semesta ini tiba-tiba berhenti bergerak? Akan terjadi kehancuran yang tidak terperi.
Kerananya, diam tak selalu emas. Diam juga bisa berubah menjadi dosa. Kerana dengan diamnya sesuatu menjadi hancur. Kerana dengan diamnya sesuatu menjadi rosak. Saat itulah kita bisa menyebutnya sebagai ‘The Sin of Inaction’. Dosa kerana tidak berbuat apa-apa.
Selama ini, kita sering beranggapan bahawa sikap pasif, minimal berbuah neutral. Tidak berdosa seseorang jika ia tidak melakukan sebuah perbuatan dosa. Tapi rupanya tak selalu demikian.
Kiai Haji Achmad Dahlan tahu benar ertinya ‘The Sin of Inaction’. Dosa kerana tidak melakukan apa-apa. Ia membaca dengan pertanyaan sekaligus peringatan Allah dalam surah Al-Ma’un.” Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka adalah orang yang mengherdik anak yatim dan tidak memberi makan kepada orang miskin. Maka, celakalah bagi orang-orang yang solat, iaitu orang-orang yang lalai dari solatnya orang-orang yang berbuat riya' dan enggan menolong dengan barang yang berguna” (al Ma’un: 1-7)
Ia tidak ingin disebut sebagai orang yang mendustakan agama. Siapa mereka yang mendustakan agama? Mereka adalah orang-orang yang tak berbuat! Orang-orang yang tidak memberi makan kaum papa, orang-orang yang tak memberikan pertolongan dengan barang-barang berguna. Merekalah pendusta agama. Orang-orang yang berdiam diri. Orang-orang yang memberikan kezaliman berdiri dengan angkuh. Orang-oarang yang tidak ambil peduli dengan kemaksiatan yang terjadi.
Kerana itulah, Kiai Haji Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyyah. Ia menolak disebut sebagai pendusta agama. Dengan Muhammadiyyah, insya-Allah kelak beliau akan berdiri gagah di depan Tuhannya, bersaksi tentang apa yang telah diperbuatnya untuk rakyat Indonesia. Ia mencerdaskan manusia. Ia memberi makan saudaranya, ia melindungi kaum yang lemah.
Betapa banyak yang menuntut kita bergerak, hari ini, rakyat Indonesia lemah dan dilemahkan. Saudara kita di Palestina, perlukan pertolongan. Muslim di Darfur, menanti kita berbuat sesuatu. Ratusan ribu pelarian yang keluar dari Iraq menyelamatkan diri, sampai ke hari ini masih terus menanti. Chechnya, Kashmir dan Kosovo menunggu untuk kita membantu mereka.
Apakah kita mampu melihat? Alangkah berdosanya kita jika tidak melakukan sesuatu!
Oleh: Herry Nurdi (Majalah Sabili)
Mengetahui saja, sama sekali tidak mencukupi. Kita harus merealisasikan apa yang kita ketahui. Kita mengetahui apa itu definisi tentang kehidupan yang baik. Tapi pengetahuan tersebut tidak semestinya membuatkan kualiti hidup kita menjadi lebih baik. Kita mengetahui apa itu kebenaran tapi sekali lagi tidak cukup hanya dengan mengetahuinya. Kita wajib mengetahui, mengikuti, menegakkan dan bergabung bersama kebenaran itu sendiri.
Di dunia ini, tak kurang jumlahnya orang-orang yang memiliki pengetahuan, tapi apakah dunia menjadi lebih baik, hanya dengan itu? Dunia berubah ketika orang yang berpengetahuan melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuannya.
Dalam sebuah kalimatnya, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna pernah berkata, “Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja yang beragama Islam. Dari mereka yang beragama Islam, jauh lebih sedikit yang berjuang. Dari sedikit yang berjuang jauh lebih sedikit yang bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja dari mereka yang sampai ke akhir perjalanan.”
Sangat jelas perbezaan antara orang-orang yang mengetahui dengan mereka yang merealisasikan pengetahuannya. Dunia berubah kerana orang-orang yang bergerak. Semesta pun terus bergerak untuk menjaga kestabilannya. Bayangkan apabila semesta ini tiba-tiba berhenti bergerak? Akan terjadi kehancuran yang tidak terperi.
Kerananya, diam tak selalu emas. Diam juga bisa berubah menjadi dosa. Kerana dengan diamnya sesuatu menjadi hancur. Kerana dengan diamnya sesuatu menjadi rosak. Saat itulah kita bisa menyebutnya sebagai ‘The Sin of Inaction’. Dosa kerana tidak berbuat apa-apa.
Selama ini, kita sering beranggapan bahawa sikap pasif, minimal berbuah neutral. Tidak berdosa seseorang jika ia tidak melakukan sebuah perbuatan dosa. Tapi rupanya tak selalu demikian.
Kiai Haji Achmad Dahlan tahu benar ertinya ‘The Sin of Inaction’. Dosa kerana tidak melakukan apa-apa. Ia membaca dengan pertanyaan sekaligus peringatan Allah dalam surah Al-Ma’un.” Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Mereka adalah orang yang mengherdik anak yatim dan tidak memberi makan kepada orang miskin. Maka, celakalah bagi orang-orang yang solat, iaitu orang-orang yang lalai dari solatnya orang-orang yang berbuat riya' dan enggan menolong dengan barang yang berguna” (al Ma’un: 1-7)
Ia tidak ingin disebut sebagai orang yang mendustakan agama. Siapa mereka yang mendustakan agama? Mereka adalah orang-orang yang tak berbuat! Orang-orang yang tidak memberi makan kaum papa, orang-orang yang tak memberikan pertolongan dengan barang-barang berguna. Merekalah pendusta agama. Orang-orang yang berdiam diri. Orang-orang yang memberikan kezaliman berdiri dengan angkuh. Orang-oarang yang tidak ambil peduli dengan kemaksiatan yang terjadi.
Kerana itulah, Kiai Haji Achmad Dahlan mendirikan Muhammadiyyah. Ia menolak disebut sebagai pendusta agama. Dengan Muhammadiyyah, insya-Allah kelak beliau akan berdiri gagah di depan Tuhannya, bersaksi tentang apa yang telah diperbuatnya untuk rakyat Indonesia. Ia mencerdaskan manusia. Ia memberi makan saudaranya, ia melindungi kaum yang lemah.
Betapa banyak yang menuntut kita bergerak, hari ini, rakyat Indonesia lemah dan dilemahkan. Saudara kita di Palestina, perlukan pertolongan. Muslim di Darfur, menanti kita berbuat sesuatu. Ratusan ribu pelarian yang keluar dari Iraq menyelamatkan diri, sampai ke hari ini masih terus menanti. Chechnya, Kashmir dan Kosovo menunggu untuk kita membantu mereka.
Apakah kita mampu melihat? Alangkah berdosanya kita jika tidak melakukan sesuatu!
Oleh: Herry Nurdi (Majalah Sabili)
0 comments:
Post a Comment